Jika kau
percaya mata adalah hal paling jujur yang ada di dunia ini, apakah kau juga
percaya mata dapat berbicara tentang hati yang bahagia, terluka maupun kosong? Bagaimana
dengan yang terucap dari lidah? Jika keduanya tak sinkron, siapa yang salah? Ya,
pemiliknya. Percayalah mengontrol kebohongan lebih mudah daripada kejujuran. Kebohongan
sering kali terucap lewat lidah yang tajam, namun kejujuran dengan halus
menampak pada mata yang lembut. Inilah dunia, jika kusebut ini perusak maka
akulah yang bodoh! Maka lebih baik kusebut ini warna dari panggung drama yang
Ia ciptakan. Kau tidak mungkin merasakan kejujuran tanpa kebohongan, bukan?
Apa yang tidak bisa kujadikan nyata dalam kehidupanku akan kujadikan nyata dalam tulisanku ;)
Jumat, 02 Mei 2014
Rabu, 19 Maret 2014
Riwayat Kepakan Jantan Si Burung Merak yang Telah Terbang Selamanya
Buku
biografi dengan judul “Rendra Berpulang” ditulis oleh Edi Haryono dengan tebal
buku 381 halaman. Buku ini berisi kenangan-kenangan Rendra selepas kematiannya
yang masih tertancap di hati dan ingatan baik orang-orang terdekatnya hingga
tokoh-tokoh dunia di bidang satra dari luar negeri yang hanya sepintas mengenalnya.
Rendra atau yang biasa disapa Mas Willy adalah salah satu maestro terbaik yang
dimiliki Negara Indonesia dengan kiprahnya di dunia seni yang berani menantang politik
“kaku” di era Orde Baru sehingga banyak dikenal dan dikagumi oleh orang-orang
dari mancanegara.
![]() |
| Cover Biografi |
Dramawan
dan penyair yang terlahir dengan nama Willybrordus Surendra Broto Rendra ini
merupakan anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu
Catharina Ismadillah. Memang buah tak jatuh jauh dari pohonnya, ternyata darah
seniman memang turun dari kedua orang tuanya. Ayah Rendra adalah seorang Guru
Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katholik di Solo yang juga
menyambi sebagai dramawan tradisional, sedang Ibunya adalah seorang penari Serimpi
di Keraton Surakarta. Rendra menghabiskan masa kecil hingga remajanya di kota
kelahirannya, Solo.
Termasuk golongan yang terpelajar, ia bersekolah dimulai
dari TK Marsudirini Yayasan Kanisius, SD-SMU Katholik St. Yosef Solo yang tamat
pada tahun 1955 dan kemudian dilanjutkan dengan berkuliah di Jurusan Sastra
Inggris Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada namun tidak
tamat.
Seperti orang-orang berbakat lainnya, minat dan bakat
Rendrapun telah terbaca sejak dini. Si kecil Rendra telah dikenalkan bagaimana
cara membaca alam sekitarnya—meliputi masyarakat sosial, alam, penguasa dan
kebijakan politiknya serta lain sebagainya—oleh Mas Janadi yang merupakan guru
pribadi Rendra yang telah wafat saat dia kelas 5 SD. Ajaran Janadi kental dengan
tradisi Jawa Suluk Demak yang dapat disimpulkan sebagai barikut: “Manjing ing kahanan, ngayuh kersaning Hyang
Widhi” yang berarti masuk dalam kontekstualitas—berupa pemberian cinta
kasih dan penebaran kharisma seniman pejuang—, meraih kehendak Allah.
Minat
yang terbangun sejak kecil itu dia wujudkan dengan berbagai peran yang dia
mainkan di pementasan drama dan tulisan-tulisan pengubahnya. Layaknya Burung
Merak yang mulai mencoba terbang, Rendra telah melakukan pementasan pertamanya
saat di SMP yang berjudul “Kaki Palsu”. Tak berselang lama—saat SMA—dia mendapatkan
pengharagaan pertamanya dengan drama “Orang-Orang di Tikungan Jalan”.
Seperti
calon sastrawan sukses lain, Rendra tak lantas puas dengan penghargaan
tersebut. Ia kembali berjuang di bidang seni dengan aktif menulis cerpen dan
esai di berbagai majalah—saat itu ia masih kuliah—, termasuk di Mingguan “Minggu
Pagi”.
Sepulang dari Rusia dan Korea Utara, tahun 1961, Rendra
mendirikan grup teater di Yogyakarta. Akan tetapi grup itu terhenti saat ia
pergi ke Amerika Serikat untuk memenuhi beasiswanya di American Academy of Dramatic Arts yang kemudian menghasilkan
berbagai karya yang dikenal dunia karena diterjemahkan ke berbagai bahasa,
salah satunya oleh seorang pakar sastra dari Australia.
Ketika kembali lagi ke Indonesia (1967), ia membentuk
grup teater yang bernama Bengkel Teater. Bengkel Teater ini sangat terkenal di
seluruh Indonesia dan dapat memberikan suasana baru di kehidupan teater tanah
air. Sampai sekarang Bengkel Teater masih berdiri dengan basis bagi kegiatan
keseniannya, yang bertempat di Depok—telah dipindahkan dari Yogyakarta pada
tahun 1983.
Si Burung Merak ini mulai jatuh hati pada seorang gadis
di usia 23 tahun. Gadis beruntung itu bernama Sunarti Soewandi, yang kemudian
dipinangnya pada 31 Maret 1959 dan membuahkan lima anak, yaitu Teddy Satya
Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa dan Clara Sinta. Beberapa
tahun kemudian, pemeran Syaiful dalam film “Al-Kautsar” ini menikahi Bendoro
Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat, putrid berdarah biru Keraton Yogyakarta. Dari
Sitoresmi ia mendapatkan empat anak, yaitu Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi
Srikandi dan Rachel Saraswati. Dalam perkembangannya, Rendra menikah lagi
dengan Ken Zuraida dengan sebelumnya ia menjadi muallaf, di mana Ken memberinya
dua anak, yaitu Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Namun dekade akhir masa
kehidupannya dia menceraikan kedua istrinya dan memilih hidup dengan Ken
Zuraida hingga akhir hayatnya.
Dalam
kiprahnya di dunia seni Indonesia, Mas Willy ini dapat menulis banyak skenario pementasan
drama diantaranya yang paling terkenal adalah Kisah Perjuangan Suku Naga yang
mengambil tema lingkungan alam, kemudian Bip Bop, Rambaterata, Selamatan Anak
Cucu Sulaiman, Mastondon dan Burung Kondor, dan Panembahan Reso (1986). Selain itu,
ia juga menulis kumpulan puisi antara lain Balada Orang-orang Tercinta, Blues
untuk Bonnie dan Potret Pembangunan dalam Puisi.
Melihat
sejuta karyanya maka tak heran jika banyak penghargaan juga yang ia terima,
seperti Hadiah Akademi Jakarta (1975), Hadiah Yayasan Buku Utama, Depatrtemen
Pendidikan dan Kebudayaan (1976), Penghargaan Adam Malik (1989), The SEA Write Award (1996) dan
Penghargaan Achmad Bakrie (2006).
Di penghujung tuanya, Rendra seperti lelah dengan
kerusakan-kerusakan sosial, politik dan lingkungan alam yang coba ia ubah namun
ia merasa kurang berhasil. Ya, ia menderita komplikasi yang cukup parah
sehingga mencabut nyawanya pada usia 74 tahun, tepatnya pada hari Kamis tanggal
6 Agustus 2009 pukul 22.10 WIB di Perumahan Pesona Depok Blok AV No. 5 yang
merupakan kediaman putrinya, Clara Sinta.
Kematian Rendra cukup mengagetkan orang-orang di sekitarnya
mengingat sehari sebelumnya ia melakukan cuci darah dan kondisinya membaik. Tapi
apalah arti kehilangan, karena bagaimanapun takdir telah berbicara. Ia dikembalikan
ke pangkuan Sang Khalik dengan manis, mengakhiri segala kesengsaraannya
terhadap penyakitnya dan kekecewaan yang sering ia bicarakan tentang politik
Indonesia kini.
Dramawan yang termasuk 100 orang pengubah sejarah
Indonesia ini, yang telah mencicipi beratnya hidup di penjara akibat karyanya
yang berani “menyenggol’ kebijakan penguasa era Orde Baru banyak meninggalkan
kenangan bagi orang-orang sekitarnya. Hingga tak luput dari sorotan
mancanegara, berbagai ucapan bela sungkawa kepada keluarga berdatangan
mengiringi kepergian Si Burung Merak yang telah terbang selamanya, meninggalkan
bekas kepakan sayap yang jantan dan berani. Selamat jalan, Burung Merak. Temukan
kedamaian dan keabadian di langit lepas!
Sabtu, 08 Maret 2014
Sang Penggerak
Tersebutlah
seorang wanita, bukan, dia hanya seorang remaja putri yang mencoba mengais
harapan gemilang. Dia berdiri di depan sebagai seorang penggerak. Bukan organisasi
elit, hanya organisasi yang disuper besarkan dengan memiliki banyak anggota. Padahal
di kenyataannya sungguh terabaikan, anggota hanya mengikuti prosedural dengan
keterpaksaan, bukan dengan hati. Layaknya seseorang yang tidak bekerja dengan
hati, merekapun hanya mendapat…kertas berisi nilai setting-an. Aah sungguh munafiknya dunia. Kembali pada pokok
pembicaraan, remaja putri itu memiliki wajah tegas dan garang, serta tekad dan
niat ingin memperbaiki organisasi kasat mata itu. Bukan, bukan hanya untuk
sebuah jabatan, dia murni dengan hati melakukannya. Fisik yang tak lembut itu
berbanding terbalik dengan yang terkubur dalam hati dan pemikirannya. Dia sangat
jeli, bisa membaca situasi dan bisa memimpin, sayang tiap orang tak diciptakan
sempurna. Dia sangat ekspresif sehingga apapun yang dia lakukan selalu timbul
akibat bisikan hati terkadang mendatangkan banyak masalah, belum lagi sifat
berani bicaranya—di tempat yang dia nyamani yang pasti—membuat dia mati
beberapa kali tlak karena tak dapat menutup pemikiran yang menerobos masuk ke
kenyataan yang ada yang berusaha disembunyikan lawan bicaranya. Dia juga
seseorang yang sosial, sehingga sulit untuk tidak tergantung pada orang lain. Kali
ini dunia memang adil.
Setelah
perkenalan tadi, mungkin kalian dapat membayangkan bagaimana jungkir-baliknya
dalam organisasi tersebut. Ditambah dengan sang kepala sekolah dan pembinanya
yang sangat otoriter dan cari muka, dia digerakkan seperti tikus mainan. Jika berhasil
para petinggi tersebut yang mendapat apresiasi atas hasil kerjanya, tapi jika
gagal? Dia dibantai habis-habisan. Bukan, ini bukan sistem pendidikan yang ada
di kepalanya. ”Ini pematian kreasi remaja!” kalau kata ayahnya. Sistem pendidikan
dari organisasi yang dia ikuti yang ada di kepalanya saat itu adalah,”Kalian
remaja, sedang pada masa emas, kreasi dan penghargaan adalah dua hal yang tak
terpisahkan. Sedang alam? Mereka mendukung kita,” bertolak belakang dengan
kenyataan yang ada. Mereka memperjuangkan semuanya, tenaga, pikiran, waktu dan
uang tanpa batas mengalir dari kantong pribadi, tapi sialnya kegagalan selalu
di depan mata karena sang penggerak itu memiliki kelemahan di sana-sini. Sialnya
lagi, apresiasi yang dia dapat berkonotasi negatif dari berbagai pihak yang
terlibat. Pengikutnya? Ha mereka benar-benar berarti pengikut, guardian angelnya hanyalah ayah dan
ibunya.
Pada dasarnya
letak kelemahan berada pada titik kekuatan kalian. Itu 100% benar, sang
penggerak itu sudah di puncak kesakitannya. Dia memang bukan orang yang ingin
jasanya mendapat timbal balik yang besar, hanya sebuah penghargaan diri itu
sudah cukup baginya. Toh sebagai siswa SMA yang didapat apa sih? Hanya nilai! Dan
dari sebuah kegagalan apa yang dilihat? Ya, hasilnya. Sayang proses yang nyata
terjadi terabaikan oleh publik.
Dengan pandai
dia mengundurkan diri menjadi seorang penggerak dan pemimpin dalam organisasi
kasat mata tersebut. Orang seberlian itu tak seharusnya diapresiasi dengan negatif
di lingkungan sekolahnya. Apalagi berlian itu belum benar-benar matang. Masih banyak
kotoran dan pembentukan belum sempurna di sana-sini. Tentulah, dia masih
remaja, bukan seorang dewasa yang telah berpengalaman dalam hidup bukan?
Jumat, 14 Februari 2014
Tidak untuk Duniaku
![]() |
| Quote for today |
Pernah
melihat saat kalian kembali ke “dunia” kalian? Serasa mendapat seloroh energi tak
terbatas, nyata adanya kalian hidup kembali. Sekalipun hanya kefanaan. Bukan bualan
jika “dunia” kalian sempat hilang akibat kesibukan di dunia pengekang ini. Kalian
seperti robot yang telah ditakdirkan menjalankan sejuta misi kebahagiaan, namun
kehilangan “kebahagiaan” kalian sendiri. Sepi. Sunyi. Tak bersuara. Itu wajar
mengingat rutinitas yang kalian jalani, pola hidup yang ketat tanpa dispensasi
dan masalah kenyataan. Bisakah kita berhenti sejenak pada kehidupan monoton dan
menorehkan sejenak kekesalan terhadap pembatasan paham liberalisme ini? Bolehkah
kita hanya sedetik saja kembali menikmati yang namanya hidup dengan sejuta tawa
penuh makna? Tidakkah dunia nyata ini mengerti bahwa “dunia” kita juga
diperlukan? Aneh, nyawaku seperti terkumpul kembali dari sekian lama tidur tak
terganggu yang kujalani. Mulai terisi kekosongan jiwa dan membuka pintu penutup
diri. Bukan rahasia lagi jika “aku” bukanlah aku. Kenapa? Kalian yang
merubahnya. Maaf jika terkesan menyalahkan, Asal tahu saja tak semua canda tawa
yang kalian gelontorkan di depanku bisa juga membuatku ikut tersenyum. Terlalu naïf
memang, tapi itulah sesuatu yang terbungkam. Dalam bayangku, kalian adalah
tempat berbagi yang benar. Tapi semua salah! Hanya Sang Penciptalah yang berhak
menyandang gelar tersebut. Apa saja hal gila yang aku tulis, ini hakku! Tidak ada
kolonialisme di sini. Kalian mungkin berhasil merebut dunia nyataku, tapi tidak
untuk “dunia”ku yang sesungguhnya.
5:00
PM
14/02/2014
Mata
Angkasa
Rabu, 15 Januari 2014
Peri Kecil dan Bidadarinya
Saat berjalan dan terhenti karena melihat setapak yang
licin, berliku dan penuh lubang, di kepalaku timbul banyak tanya. Bagaimana aku
bisa melewati semua itu hanya dengan sebelah sayap? Kemudian kusapukan
pandangan ke sekeliling, tepat di siku jalan kulihat sesosok Bidadari. Ya, Bidadari
tak bersayap. Dia sangat bersinar dengan wajah yang teduh bagai pohon yang
sejuk saat siang hari. Melihatku terhenti, dia mendekat. “Wahai anak muda,
sedang apakah kau di sini? Mengapa tak teruskan perjalananmu?” oh ternyata aku
salah, dia sepertinya tak lagi muda. Aah tapi apalah arti umur jika sesosok Bidadari
itu tetaplah cantik? “Selamat siang, Bidadari. Aku terhenti di sini karena tak
tahu harus ke mana lagi, kau bisa lihat, salah satu sayapku telah patah. Dan
orang-orang yang mematahkannya telah…pergi. Sumber kebahagiaankupun tak ada
lagi, aku bingung,” raungku dengan wajah memelas. “Hai Peri Kecil yang jelita,
janganlah engkau patah semangat, kau masih muda, jalanmu juga masih panjang,”
katanya sambil memelukku dari samping. “Jalanku benar masih panjang, tapi tak
terlihat secerca cahayapun di depan. Cahaya adalah satu-satunya petunjuk dan
tujuanku, Bidadari,” kataku menyanggah. “Jika aku mengembalikan cahayamu dan
merangkai sayapmu kembali, apa kau janji akan teruskan jalanmu?” tanyanya
padaku. “Demi apapun jika itu terjadi, tak akan aku berhenti di sini, akan aku
teruskan ke arah tujuanku,” kataku dengan mata berbinar karena mulai terlihat
secerca harapan. “Berikan patahan sayapmu!” perintahnya. Aku pun mengeluarkan
kotak angan dan membukanya. Terlihatlah serpihan sayap putih yang sangat
mengenaskan. Aku melihat mata Bidadari itu mulai iba. Diapun mengambil kotak
anganku.
“Wahai
Sang Pemberi Kehidupan, izinkanlah hamba membantu Peri Kecil hamba untuk
mencapai langit tertinggi yang Kau gariskan untuknya,” Bidadari itu menengadah
dan tiba-tiba serpihan sayapku terbang melayang dari kotak anganku. Aku
terkejut. Namun Bidadari itu menoleh dan berkata sambil tersenyum,”Tenanglah
dan lihatlah,”. “Kuperbaiki sayapmu dengan rajutan benang kasih, tempelan
kekuatan angan, rayuan semangat menuju langit tertinggi dan jiwa Bidadari tak
bersayap yang siap mendampingimu,” seketika sayapku kembali utuh dan menempel
di punggungku. Aku kembali terkejut. Bukan hanya itu, sayapku juga semakin
indah, banyak kerlap-kerlip ungu berterbangan di sekitar sayapku. Menangislah
aku dalam pelukan Bidadari tersebut. “Wahai Bidadari, siapakah engkau? Dan ke
mana pula sayapmu?” tanyaku sambil menyeka air mata penuh haru. “Aku adalah
sesosok Bidadari yang Tuhan kirimkan untukmu. Sayap? Aku tak perlu sayap untuk
terbang. Karena aku telah menemukan Peri Kecilku yang akan membantuku menuju
langit tertinggi,” setelah berkata demikian, Bidadari itu kembali memelukku.
“Lihatlah ke depan,” katanya sambil tersenyum bahagia. Bidadari itu melambaikan
tangan ke depan dan mulai terlihat sebuah…bulatan. Semakin lama semakin
membesar dan ternyata itu cahayaku. Tanpa pikir panjang, aku langsung
menggandenganya dan terbang mendekati cahaya itu. Cahaya itu benar masih jauh,
namun aku tak perlu takut lagi, telah ada penjaga di sisiku. Ya, Bidadari tanpa
sayap itu ;)
18:46/ 15-Januari-2014
Senin, 13 Januari 2014
"Mampir" Bukan "Pulang"
Ketika mata saling menatap dalam kejauhan dan diam. Seperti ada yang kembali. Ya, yang telah lama hilang. Bukan, bukan benar-benar pulang hanya sekedar...mampir. Hati gembira, seperti baru terguyur air hujan saat kemarau panjang. Masih sama, hanya bisa diam. Diam dalam kebahagiaan. Itu pilihan. Bukan tak mau berbagi, hanya saja...i tu terlalu tak logis. Sapaan rindu dalam diam bisa membuat kalian tersenyum selama seharian padahal hari ini adalah hari Senin---ya, itu hari yang sangat dibenci oleh sebagian orang. Apalah arti sebuah kebahagiaan kecil ini dibanding dengan keterikatan dahulu yang sangat ingin kau lepaskan? Lupakan! Kalian sepertinya hanya benar-benar ditakdirkan "mampir", bukan...."pulang" ;)
Jika seseorang memilih "pergi", dia pasti tahu ke mana dia harus "pulang". Sekalipun "rumah" dia bukanlah kita.
17:49/ 13-Januari-2014
Jika seseorang memilih "pergi", dia pasti tahu ke mana dia harus "pulang". Sekalipun "rumah" dia bukanlah kita.
17:49/ 13-Januari-2014
Kamis, 21 November 2013
The Worst
Bisakah kita berhenti pada satu pijakan dengan jalan
lurus tanpa rintangan? Tertawa setiap hari dengan orang-orang terkasih,
memperoleh kado yang berisi novel-novel terbaru dari penulis favorit, tidak ada
konflik, pertengkaran dan pertentangan, bisakah? That’s impossible! Bahkan
perlu kalian tahu sekedar berharap tidak bertemu dengan orang yang
sangat-sangat ingin kalian hindaripun itu sulit. Tuhan selalu menjawab
keinginan kalian dengan,”Maaf Aku tetap harus mempertemukan kalian dengan
caraKu,”. Lalu apakah Tuhan tidak melihat usaha kalian? Perasaan kalian? Bahkan
emosi yang sangat tertahan—entah perasaan geram, dongkol ataupun sedih—ketika
kalian melihat orang tersebut? Itu permasalahannya, maaf jika aku cenderung
menyalahkan Tuhan. Pada dasarnya aku hanya geram karena tak tahu apa
rencana-Nya yang selanjutnya. Percayalah bertemu dengan seseorang yang
seharusnya sudah lenyap dari hidup kita itu rasanya seperti….luka bakar yang
disiram perasan jeruk nipis! Tidak tahu rasanya? Coba bakar tangan kalian dan siram
dengan air jeruk nipis! Seperti itulah rasanya. Lebay dan alay? Ini pendapatku,
kalian dengarkan atau tidak…itu pilihan J. Sebal karena satu tali nyata yang tidak dapat
terputus tetap tersambung. Bukan, bukan status spesial dan lainnya. Tapi
sesuatu yang lebih sulit untuk dijelaskan namun juga menyiksa. Adil nggak sih,
ketika kalian tak tahu apa-apa tentang seseorang, tapi orang itu tahu segalanya
tentang kalian? Dan ketika suatu pemikiran tentang hal aneh di dunia yang belum
sempat terucap sama persis seperti apa yang diucapkan dengan orang itu? Itu
bencana! Kalian pikir setiap ikatan itu bernilai positif, bukan? Ini adalah
salah dua bukti bahwa ikatan tidak selalu menyenangkan!
Langganan:
Postingan (Atom)

