Di saat seperti ini aku baru
menyadari bahwa dunia memang benar-benar tak terbaca. Kalian bisa mencobanya,
ini untuk orang-orang pemilik mata kurang sempurna—seperti aku. Ketika kalian
berkeliling kota, memandang ramainya jalan raya, puluhan kendaraan bermotor
lalu lalang, kalian menyadari satu hal. Semuanya buram tanpa kacamata! Seperti
itulah hidup. Buram, tak terbaca dan tak jelas. Tapi ketahuilah, di waktu
kalian penuh dengan masalah dan emosi sebenarnya yang dibutuhkan adalah
keramaian. Coba saja tenggelamkan diri kalian dalam keramaian. Memperhatikan
apa yang orang lain kerjakan, memandang indah ciptaan Tuhan, itu lebih baik
daripada menangis sendiri dalam kamar.
Aku
tersenyum ketir ketika melihat bulan di awan hitam menertawaiku. Seakan dia
mengejekku, “Bodoh kali kau! Hidup selalu mempermainkan kau, kenapa kau musti
membuat serius hidup?”. Di sinilah aku tersadar dan bangga akan sisi
berwarnaku. Aku tak pernah bisa benar-benar dibuat menangis oleh orang-orang
penghempas mimpiku! Tapi kemudian aku berpikir kembali, sesuatu—apapun
itu—selalu dan pasti memiliki dua sisi. Dan aku teringat akan sisi gelapku,
yaitu ketika dihadapkan pada suatu masalah jarang sekali bisa berpikir positif
dan selalu pesimis. Akankah para perusak mimpi—manusia—merubahnya? Atau Sang
Pemberi Mimpi yang merubah?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar