Senin, 24 Juni 2013

Peranakan


                Hidup sebagai 4 bersaudara dengan posisi anak perempuan pertama dan terakhir yang untungnya lahir awal ada enak dan enggaknya. Enaknya, aku adalah anak yang paling disayang hehe. Nggak enaknya ketika terjadi perang dunia. Aku punya 3 saudara lagi yang biasa kusebut tuyul berisik berwujud anak manusia—baca dengan hati ikhlas Abi, Dio dan Aca. Mereka adalah musuh bebuyutan sedarahku. Mereka adalah pengganggu kenyamanan hidupku. Sedikit cerita mengenai kehidupan kami…
Di suatu ketika, di malam yang hening—tidak untuk rumah kami pastinya. 4 orang anak manusia dengan segala kekreatifan dan keusilannya berulah. Si kakak cewek yang agak cowok sedang nyaman di kamarnya. Di kamar sebelah dihuni oleh 3 ekor tuyul berisik yang berwujud anak manusia. Mereka dengan kejam berteriak-teriak hingga mengganggu si kakak. Awalnya si kakak cewek—kalo nggak mau dibilang cowok—masih sabar. Tapi yang namanya anak remaja emosi masih labil, dia terganggu juga oleh teriakan adik-adiknya yang berada di kamar sebelah. Dia bangkit dari kubur, eh kasur dan langsung membuka pintu. Mendengar pintu kamar sebelah terbuka ketiga ekor tuyul itu hening tanpa suara. Si kakak yang masih sebal mengetuk pintu kamar ketiga ekor tuyul itu dengan kasar. Karena mereka takut, akhirnya mereka memilih untuk tidak membukakan pintu untuk kakaknya. Ide usil sang kakak untuk membalas dendam pun muncul. Dia merubah nada suaranya menjadi lembut dan membujuk ketiga ekor adiknya untuk membukakan pintu dengan alasan takut di luar sendiri.
 Yang namanya anak kecil sekalipun berjumlah lebih banyak dari orang gede otak mereka tak lebih dewasa dari kita. Mereka bertiga tertipu oleh bujuk rayu maut sang kakak. Pintu terbuka, awalnya wajah sang kakak masih halus dan lembut. Si adik pembuka pintu yang bertubuh tambun membuka pintu semakin lebar dan…klak! Kunci kamar diambil si kakak. Dengan cekatan dan lincah pintu ditutup kembali oleh sang kakak dan dia kunci dari luar. “Buahahaha…rasain lo! Buat gara-gara sama gue sih! Buahahaha….” tawa sang kakak meledak. Rencananya berhasil. Sekarang ketiga ekor anak manusia itu sedang menggedor-gedor pintu dengan ganas meminta pintu dibuka. Tapi yang namanya dendam kesumat, sang kakak malah tertawa terbahak-bahak semakin kencang dan menyanyikan lagu kemenangan dari kaca kamar yang terhubung langsung dengan kamar sang adik, “I’m the champion…I’m the champion….”. Mendengar nyanyian sang kakak yang sangat senang melihat ketiga ekor adiknya tersiksa itu si tua yang kurus tinggi ikut tertawa terbahak-bahak diikuti kedua ekor adik lainnya. “Ternyata kakak yang selama ini dibanggakan mama, gila! Buahahaha….”.
Sekian ceritaku, bila ada salah kata mohon dimaafkan. Karena aku hanyalah seorang anak manusia yang tidak sempurna dan mengharapkan menjadi seorang penulis berskala dunia-akhirat. Terima kasih. Wassalam J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar