Hidup
sebagai 4 bersaudara dengan posisi anak perempuan pertama dan terakhir yang
untungnya lahir awal ada enak dan enggaknya. Enaknya, aku adalah anak yang
paling disayang hehe. Nggak enaknya ketika terjadi perang dunia. Aku punya 3
saudara lagi yang biasa kusebut tuyul berisik berwujud anak manusia—baca dengan
hati ikhlas Abi, Dio dan Aca. Mereka adalah musuh bebuyutan sedarahku. Mereka
adalah pengganggu kenyamanan hidupku. Sedikit cerita mengenai kehidupan kami…
Di suatu ketika, di malam yang
hening—tidak untuk rumah kami pastinya. 4 orang anak manusia dengan segala
kekreatifan dan keusilannya berulah. Si kakak cewek yang agak cowok sedang
nyaman di kamarnya. Di kamar sebelah dihuni oleh 3 ekor tuyul berisik yang
berwujud anak manusia. Mereka dengan kejam berteriak-teriak hingga mengganggu
si kakak. Awalnya si kakak cewek—kalo nggak mau dibilang cowok—masih sabar.
Tapi yang namanya anak remaja emosi masih labil, dia terganggu juga oleh
teriakan adik-adiknya yang berada di kamar sebelah. Dia bangkit dari kubur, eh
kasur dan langsung membuka pintu. Mendengar pintu kamar sebelah terbuka ketiga
ekor tuyul itu hening tanpa suara. Si kakak yang masih sebal mengetuk pintu
kamar ketiga ekor tuyul itu dengan kasar. Karena mereka takut, akhirnya mereka
memilih untuk tidak membukakan pintu untuk kakaknya. Ide usil sang kakak untuk
membalas dendam pun muncul. Dia merubah nada suaranya menjadi lembut dan
membujuk ketiga ekor adiknya untuk membukakan pintu dengan alasan takut di luar
sendiri.
Yang namanya anak kecil sekalipun berjumlah
lebih banyak dari orang gede otak mereka tak lebih dewasa dari kita. Mereka
bertiga tertipu oleh bujuk rayu maut sang kakak. Pintu terbuka, awalnya wajah
sang kakak masih halus dan lembut. Si adik pembuka pintu yang bertubuh tambun
membuka pintu semakin lebar dan…klak! Kunci kamar diambil si kakak. Dengan
cekatan dan lincah pintu ditutup kembali oleh sang kakak dan dia kunci dari
luar. “Buahahaha…rasain lo! Buat gara-gara sama gue sih! Buahahaha….” tawa sang
kakak meledak. Rencananya berhasil. Sekarang ketiga ekor anak manusia itu
sedang menggedor-gedor pintu dengan ganas meminta pintu dibuka. Tapi yang
namanya dendam kesumat, sang kakak malah tertawa terbahak-bahak semakin kencang
dan menyanyikan lagu kemenangan dari kaca kamar yang terhubung langsung dengan
kamar sang adik, “I’m the champion…I’m the champion….”. Mendengar nyanyian sang
kakak yang sangat senang melihat ketiga ekor adiknya tersiksa itu si tua yang
kurus tinggi ikut tertawa terbahak-bahak diikuti kedua ekor adik lainnya. “Ternyata
kakak yang selama ini dibanggakan mama, gila! Buahahaha….”.
Sekian ceritaku, bila ada salah
kata mohon dimaafkan. Karena aku hanyalah seorang anak manusia yang tidak
sempurna dan mengharapkan menjadi seorang penulis berskala dunia-akhirat.
Terima kasih. Wassalam J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar